Nafsu Membara Kehidupan Binasa

Sejak kandungan anak ditimang dan kasih sayang
Harapan bunda kelak jadi anak orang yang terpandang
Kandas harapan ternyata anak jadi orang penantang
Dicipta manusian Ku Allah cinta dengan kasih sayang
Kuiringi Qur’an dan Rasul agar hidup menjadi menang
Ternyata kau (diri) lebih suka dengan hidup menyimpang

Menangis bayi lahir ke muka bumi
Sakit dirasa kejam sentuhan dunia
Menangis ruh terkurung oleh nafsani
Inikah jadinya kami ruh ada di dunia
Tiba saat maut menyongsong diri
Apa daya segalanya bakal dirasa

Banyak binatang hidup di dalam lautan
Tidak beraqal tidak memiliki aturan
Namun memiliki belas kasihan
Sungguh heran manusia berkehidupan
Memiliki aqal tidak tegak keadilan
Fitrah ditekan nafsu dilepaskan

Lantunan ombak menghembus badai
Buangkan buih yang tidak bernilai
Kemilau dunia membawa hamba terbuai
Nafsu menjajah, jadilah hati mati terkulai

Menggulung ombak tampak di permukaan
Kaena tak mampu menjangkau kedalaman
Bergejolak selalu tak memiliki titik kejelasan
Bergejolak nafsu tampak nyata di pandangan
Karena buta melihat getaran titik kebenaran
Segala keinginan tak berpulang pada al-qur’an

Hilir mudik manusia di tengah pasar
Barang terjual harapan bagi saudagar
Kecurangan dan kecurangan di pasar wajar
BEGITULAH DIRI BEBAS TIDAK MAU DIPAGAR
DIPAGAR QUR’ANI DIRI TAK MAU SADAR
Pastilah kebenaran selalu dilanggar

Panas terik di siang hari, harapkan angina datang semilir
Mengahapus wajah yang kusam keringat bergulir-gulir
Legakan nafas sesaat, terangkat segala pahit dan getir
Lanjut berikut angin pun bersahut kata agar jelas terukir
Bukan angin enggan bertandang, namun engkau mengusir
ANGIN BERHARAP BERLAPANG DADA, tetapi engkau pun kikir

Tinggi sekali durian bergantung di atas dahan
Di balik kulit berduri rasa manis rapat tersimpan
Sulit dipetik harap kemurahan angin menjatuhkan
Sungguh tinggi rahmat belai kasih Ar-Rahman
Aduh sakit nafsu merasa bila datang kebenaran
Sulit kebenaran diterapkan, nafsu tak mau dirugikan

Hitam kelam warnai suasana malam hari
Gelak tawa binatang malam riang bernyanyi
Hidup dalam kekelaman jadikan selimut diri
Itulah hidup manusia tanpa cahaya Ilaahi
Disibak nilai haqiqi, berat dijalani
Kelamnya hati tidak pernah mau perduli

Haru dan hiba melihat rumput tumbuh berdiri
Sesaat tegak, sesaat jatuh diinjak kaki
Namun amat indah ketika angin menggoyangi
Sungguh memilukan melihat kehidupan insani
Lebih meluluhkan saat membela kebodohan diri
Disingkap kebodohan diri, nafsu marah sekali

Letih dan lelah kalifah berjalan di bukit gurun sahara
Terik mentari menguras tenaga lemah tak berdaya
Banyak beban dibawa pelan perjalanan ditempuh onta
penat dirasa perjalanan seorang hamba di lembah cinta
Karena membawa kelebihan beban berat cinta dunia
Rusak dan roboh jembatan penghubung saat dilaluinya

Ditanam tebu pasti berasa manis
Datang masa ternyata berasa sepah
Berbekal ruh, berbuat akhlaq manis
Ternyata kedzaliman diri hasil buah

Tenang laut dipermukaan bukan harus berbangga
Semau diri ikan-ikan diciduk guna kejayaan diri semata
Siapa menduga di dasar laut ada kemarahan terpenjara
Karena ikan-ikan diciduk tanpa alasan pasti dan nyata
SABAR MENUNGGU SAAT TEPAT, PERAHU PENCULIK IKAN TERLENA
GETARAN MERAMBAT SATUKAN KETENAGAAN LEDAKAN TIBA-TIBA

Dikutip: Secercah Cahaya Pelita Jalan Keluar, Oleh. Ki Munadi MS.


Komentar :

No Komen : 2
Dwi Atmaja, S.Pd, M.Psi :: 17-02-2013 09:09:11
salam kenal, rasanya sepi ... tidak ada teman yang semangati upload artikel dalam blog .... kmrn waktu kongres blogger di UNAIR ikut gak?
:: Reply ::

Salam kenal balik...., belum bisa ikut konggres bloger yang kemarin, waktunya bersamaan dengan ujian semester di UT.

No Komen : 1
penyuluh perikanan :: 11-04-2012 14:59:43
syair yang bagus dan luar biasa, terima kasih, ...... ohya ditunggu _dan folow juga
trims
:: Reply ::

Terima Kasih, sudah berkunjung ke Blog anda, Bagus sekali Blognya.

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]