Guru Kesulitan Buat KTSP

shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan kurikulum tidak berarti tanpa menyiapkan implementasinya, terutama di kalangan guru. Para guru merasa kebingungan menyongsong perubahan kurikulum baru yang diwacanakan pemerintah karena pembuatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diberlakukan sejak 2006 saja tidak berjalan baik.

”Meski kurikulum diubahubah, itu bisa tidak berdampak jika guru tidak pandai menerjemahkannya dalam pembelajaran di dalam kelas,” kata Itje Chodijah, pendidik dan pelatih guru, di Jakarta, Selasa (2/10).

Menurut Itje, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidak bisa dikembangkan sekolah. Ini karena guru tidak dilatih menerjemahkan standar isi yang ditetapkan pemerintah menjadi KTSP sesuai kondisi dan kebutuhan di tiap sekolah.

Turman, guru di salah satu SDN di Serang, Banten, mengatakan, para guru butuh dibantu untuk bisa memahami kurikulum. Seharusnya hal ini bisa dipelajari dalam kelompok kerja guru, tetapi kenyataannya tidak berjalan.

”Membuat KTSP hingga rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP masih sekadar untuk memenuhi administrasi dokumen,” kata Turman. ”KTSP yang dibuat sekolah secara umum tidak berjalan,” ujarnya.

Pola tak berubah


Itje menambahkan, meski kurikulum sering berubah, kenyataannya pola mengajar guru di depan kelas tak banyak berubah.

”Dari dulu sampai sekarang, guru masih dominan menggunakan cara mengajar menerangkan. Mereka sangat mengandalkan buku teks. Kelemahan inilah yang jadi celah penerbit buku mengedarkan lembar kerja siswa,” ungkap Itje.

Itje mengatakan, pelatihan bagi guru memang sering dilakukan, tetapi lebih pada sosialisasi atau konsep. ”Padahal, guru butuh contoh dan cara-cara praktis yang bisa diterapkan di dalam kelas,” katanya.

S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, mengemukakan, pengembangan kurikulum harus dilakukan secara total, mulai dari penyiapan dokumen hingga penerapan di lapangan. Berdasarkan pengalaman, pemerintah sering kali sibuk mengubah kurikulum yang dianggap lebih baik, teatpi melupakan pelaksanaan dan evaluasinya. ”Para guru harus diberdayakan secara serius agar mampu mengimplementasikan perubahan kurikulum baru,” tutur Hamid. (ELN)

Sumber: edukasi.kompas.com


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]